Minggu, 18 Oktober 2015

Perjuangan si Kecil Memahami Takdir

Terlahir sebagai a quiet person by nature, pada masa kecil dan remaja saya memang cenderung sangat pendiam.
Saking pendiam, saya bahkan merasa canggung tatkala harus berbaur dengan teman-teman sebaya dan sekolah.
Saya hanya memiliki beberapa teman, dan dengan mereka saya merasa nyaman.
Entah persisnya kapan saya perlahan berubah menjadi pendiam, mungkin tatkala saya mulai suka mengembara dgn pikiran saya, dan tatkala mulai banyak bermunculan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup. Mengapa, dan Kenapa,,,Mengapa ini begini dan kenapa itu begitu.



Almarhumah ibu saya bilang: "kamu itu rumit Nduk,,,, pikiran terlalu jauh, jangan banyak berpikir, jalani saja semua yang tersaji di jalan hidupmu sewajarnya, dan ingat harus selalu sabar dan mengalah".
Ibu saya benar. Pikiran saya yg terlalu jauh, membuat semakin banyak pertanyaan berkumpul di benak saya, dan semakin banyak keadaan yang tidak bisa saya pahami pd masa2 remaja itu.
Satu yang sering sekali membuat saya bingung : Mengapa Allah sedemikian rupa membuat manusia terlahir dgn nasib berbeda? Mengapa ada yg terlahir kaya? ada yg miskin? Mengapa ada yang cantik atau tampan dan mengapa ada yg tidak? Dan mengapa ada yg hidupnya sedemikian rupa diamugerahi kemudahan dan keberuntungan, sedangkan sebagian lain seolah-olah tak berhak mengecap kebahagiaan, bahkan seolah- olah tak berhak untuk sekedar punya pilihan? (dan,,,saya merasa berada di golongan yg kedua ini ).
Usia remaja sy pd waktu itu memang belum cukup mampu menyerap dan meng ejawantahkan makna kasih sayang Allah dibalik setiap ujian dan jalan berliku serta bertubi-tubi nya cobaan yg datang dlm kehidupan kami.



Almarhumah ibu saya mengajarkan untuk senantiasa berprasangka baik terhadap setiap orang dan setiap kejadian. Dan ibu benar2 menerapkannya dlm sikap sehari-hari. Untuk urusan sabar dan nerimo, almarhumah ibu sungguh tiada duanya.
Saya pernah mencoba berpikir dan bersikap spt ibu saya, mencoba percaya semua orang baik dan semua orang tak suka membeda- bedakan manusia berdasar apa yg dimilikinya, kekayaannya atau penampilan fisiknya. Namun, srmakin beranjak dewasa, semakin banyak yg sy lihat, semakin saya menyadari bahwa sebagian besar manusia justru bersikap sebaliknya dari apa yg hendak dan ingin saya percaya.
Sebagian besar manusia suka membeda,-bedakan sikap dan perlakuannya terhadap manusia lain berdasar apa yg dimilikinya (pangkat, kedudukan, atau memiliki sesuatu yg dapat 'dimanfaatkan), kekayaan yg dipercaya bisa mengangkat martabat dan kehormatan, dan kecantikan serta kegagahan jasmaniah.



Ketika sy kanak-kanak pun, sy sudah bs merasakan diskriminasi terhadap kaum miskin, spt keluarga sy.
Sebagaimana seorang ibu terhormat di lingkungan tempat tinggal kami yg selalu memanggil almarhumah ibu sy dengan panggilan yg didahului awalan "si".
Seperti penyebutan si Polan, atau si Fulan.
Berbeda dgn cara dia menyebut dan memanggil ibu2 dari sesama kalangan terhormat lain yg dgn sebutan " jeng" , yg tentu mengandung konotasi berbeda.
Dalam sebuah arisan ibu2 lingkungan, sy pernah menyaksikan sendiri, almarhum ibu dilarang secara halus untuk duduk di kursi baru seorang ibu terhormat, yaitu seperangkat kursi kayu jati berukir dr Jepara, dan mempersilakan ibu duduk di kursi lain di ruangan itu. " Jangan disitu,,,itu khusus untuk tempat duduk jeng X dan jeng Y ", demikian penjelasan si nyonya. Astagfirullah, bahkan tempat duduk pun manusia membuat sekat dan perbedaan spt itu.
Padahal, niat almarhumah ibu untuk duduk di kursi itu bukan lantaran ingin merasakan nikmatnya duduk di kursi mahal, melainkan krn posisi nya sbg pemegang buku arisan,dan ketua dasawisma yg harus memberikan sambutan, setidaknya posisi duduknya terlihat oleh hadirin yg lain.
Berbagai hinaan secara langsung, maupun berbalut candaan , hampir setiap hari kami terima,
jika ada sedikit selisih paham, maka makian dan umpatan kotor akan mudah sekali berhamburan dr bibir si nyonya, bukan hanya kpd ibuku tp jg pd orang lain, yg merupakan kaum dr 'kasta' yg dianggapnya rendah.
namun herannya almarhum ibu spt tidak pernah terusik dgn sikap2 spt itu, bahkan menanggapinya dgn senyuman. Ibuku sungguh hebat!
Ibuku cantik, cerdas, pandai mengaji, pintar bergaul dan beradaptasi di berbagai kalangan. Meski cuma golongan 2, bapakku seorang pegawai negeri jd ibuku secara otomatis tergabung dlm perkumpulan darma wanita. Bukan sekedar anggota biasa, melainkan Darma wanita yg aktif berkegiatan spt menjadi perwakilan kantor untuk mengisi kegiatan kesenian gabungan dgn instansi lain, main kolintang, jd komandan baris berbaris, jadi kapten volley, jadi ketua perkumpulan pengajian, dan lain2 masih banyak torehan kepiawaian ibuku.
Namun semua itu tidak merubah kenyataan bahwa kami orang miskin, dan karena kami miskin rupanya apapun kelebihan yg dimiliki ibu sy almarhumah jd tak bermakna di mata sebagian orang terutama nyonya terhormat tetangga kami itu, dan tidak pernah mempengaruhi sikapnya untuk sekedar (sedikit saja) lebih lembut dan baik pd ibuku...ini adalah fakta!



Andai setiap perlakuan tidak baik yg kami terima sepanjang masa kecil hingga dewasa sy ,akibat rendahnya strata sosial kami ini saya tulis, pasti akan menghabiskan banyak halaman di blog ini,,,,atau malah bisa disusun menjadi buku!!! Antara perasaan berdosa saya pd Yang Maha Kuasa karena sikap kritis sy pada keadaan yang terkadang jadi sedikit menggeser rasa syukur sy akan tidak terhitungnya nikmat yg Allah berikan, membuat sy selalu menimbang-nimbang : layak;-kah hal seperti ini menjadi sesuatu yg mengganggu ketentraman hati? Bagaimanapun kondisi kami, bagaimanapun banyak cobaan dan ujian, bagaimanapun tak terhitung torehan kepedihan yg menguras air mata dlm perjalanan hidup ini,,,saya sangat bersyukur menjadi diri sy apa adanya. Saya merasa diberkahi.
Diberkahi karena dalam beberapa hal Allah telah membimbing sy meraih pencapaian melampaui apa yg bisa diraih oleh mereka yg terlahir dlm situasi dan kondisi yg sama. Kendati pencapaian itu bukan tentang kuantitas materi.
Saya sangat percaya, dibalik setiap ujian yg seolah tiada henti, cinta kasih Allah pd hambanya ini tiada bertepi.



Bagi bunda pembaca yg biasa menonton acara siang hari di ANtv , pernah menonton serial "Utarran"? Serial TV anak2 dari India yg mengisahkan kehidupan gadis kecil yg lugu dan berasal dari keluarga miskin,,,hampir seperti itulah kehidupan masa kecil sy, bahkan sedikit lebih complicated.
Tidak terhitung pertanyaan sy kpd Tuhan dalam do'a dan lelehan air mata seorang kanak-kanak yg sulit mencerna tatkala cobaan hidup " memaksa"nya untuk hanya punya satu pilihan: sabar dan menerima, yg berujung pd tanya : dimana letak keadilan ya Allah ya Tuhanku?


Ada sekelumit kisah yg terekam dalam ingatan saya tentang masa kanak2 , kisah duka namun bercampur lucu yg mengundang senyum sekaligus kesedihan saat mengingatnya.
Pada setiap menjelang akhir bulan, dompet ibuku hampir selalu tak terisi uang sepeserpun ,,, meski sekedar recehan sekalipun ( sungguh ter-la-lu... ).Memaksa ibuku selalu berhutang ke sebuah warung sekedar untuk membeli beberapa kilo beras , sebungkus mie atau sebungkus ikan asin untuk mengganjal perut anak2nya yg kelaparan. Bagaimana judes dan galaknya tampang pemilik warung tiap kali ibu sy datang, masih tergambar jelas dlm ingatan sy. Kami mengerti sebagai penjual yg beromzet tidak terlalu besar, pembeli yg ber hutang pasti mengurangi omzet penjualannya.Omelan dan bentakannya saat meladeni ibu sukses menyiutkan nyali kanak2 sy, yg sering melihat kejadian itu (karena sy suka ikut kemanapun ibu pergi), namun tidak menyurutkan ketegaran ibuku ,yg tetap memilih menepis sendiri perasaan terhina , demi bisa memberi makan anak2 nya. Tapi sikap pemilik warung biasanya akan berubah drastis dan penuh senyum bila awal bulan tiba, karena sehabis menerima gaji bulanan dari ayah, ibu bakal bergegas membayar utang2 nya ,hehehe  :D

Di masa kanak-kanak, saya hampir tidak pernah membeli baju. Semua pakaian yg sy kenakan nyaris semua adalah pemberian orang. Alhamdulillah sy sangat gembira tatkala menerima pemberian itu. Serasa menerima harta karun yg sangat berharga. Apalagi jika pemberian itu ada baju yang masih bagus.Begitu terbiasa menerima seadanya sampai kadang tak terpikirkan untuk bisa spt orang lain. Rasanya pd saat itu, hal yg sederhana itu sudah cukup bagi kami.
Pd waktu itu, sy tak melihat bahwa miskin dan tak punya uang itu sebuah ketidakberdayaan. Sy bisa menemukan kegembiraan dan tawa ketika berjalan2 k kebun dan menemukan sebutir telur yg ditinggalkan si induk ayam, melihat orang memanen buah dari pohon dan memberi saya beberapa butir jambu, atau menemukan sepasang sandal butut yg ternyata masih bisa dipakai setelah dibersihkan.


Satu2 nya hal yg membuat saya merasa  tidak berdaya menjadi si miskin adalah SIKAP MANUSIA nya!!!
Ya, sikap diskriminasi orang lain yg notabene kaya dan berkecukupan (seperti sikap nyonya terhormat tetangga kpd almarhumah ibu sy ), terhadap kaum miskin.
Pelajaran pertama tentang hidup dan pengembaraan pikiran sy dimulai dr sini . Bahwa dr semua hal yg menakutkan di dunia ini, ada satu hal yg paling menakutkan dan perbuatannya sering meninggalkan luka : manusia!


Namanya Bunga (bukan nama sebenarnya).Usianya satu tahun di atas sy. Cantik, putih, dgn rambut yg ikal dan badan berisi. Dia putri si ibu terhormat tetangga kami.
Kami suka bermain bersama, meski sy sering kesal dlm hati, karena Bunga hobbynya main perintah dan main suruh saja. Jika saya tak menuruti kemauannya, dia mudah marah dan mengeluarkan 'senjata andalan' nya : tangisan yg melengking- lengking spt orang kesakitan.
Tangisannya sungguh berlebihan, untuk hal yg amat sepele sekalipun.
Suatu sore, sy sedang berdiam di rumah ketika tiba2 sesosok tinggi besar memasuki rumah kami tanpa permisi. Sy mendongak, dan melihat kakek Bunga, seorang pensiunan bintara polisi berkacak pinggang di depan sy.
"Mana Bunga? kau ajak bermain ya?", tanya sang kakek tanpa basa-basi.
" Tidak kek,,,sy dari tadi main di rumah" , jawab sy dgn hati mengkerut.
"Halah...!!!" ,hardik sang kakek "cari sana! cepat! biasanya kamu yg ajak main dia !"
Saya kebingungan, memandang ibunda saya. Mengapa sy yg harus mencari? Bukankah sy tak bermain bersama? Mengapa seolah-olah ini jadi kesalahan sy? Bunga anak yg bossy, dan notabene lebih tua, dia punya kemauan sendiri, tidak mungkin dia hanya menjadi pengikut saya kan?mengapa sy yg harus bertanggungjawab tentang keberadaannya? Protes2 itu hanya bisa berkecamuk dalam hati saja karena saya tak punya nyali mengucapkannya.
Ibunda ku tersenyum sareh,"sudahlah Nduk,,,tidak apa2...coba cari mbak Bunga ya?"

Sambil berjalan kesana kemari mencari Bunga, berbagai pertanyaan terus sj mengusik benak kanak2 saya. Tidak adil,, tidak adil ,, ! begitu gumam hati saya.
Sampai kemudian sy menemukan Bunga asyik bermain di rumah tetangga kami yg lain.
"Mbak Bunga, dicari kakek...disuruh pulang!", kata saya.
" Ogah....aku masih mau main",jawab Bunga sambil pasang tampang judes.
"Tapi kakek nyariin,   nanti bagaimana saya menjawabnya?", kata saya lagi.
" Aku masih mau main! titik! kamu ini memang siapa sih? ganggu aja...", Bunga mendelik.
"Kakek Mbak Bunga bilang,,,suruh pulang. Saya harus jawab apa?", saya mulai bingung.
" Urusan mu...urus saja sendiri,,,memang kamu siapa? memang kamu apaku?" Bunga tetap bersikeras.
Lalu kenapa urusan mencari Bunga menjadi urusan saya ya? tanya saya dalam hati.
Karena tak tau harus bagaimana saya memutuskan untuk duduk menunggu. Namun rupanya itu memicu amarah Bunga
"Ngapain disitu? pergi sana .....!"
Saya menggeleng,"Nanti gimana saya menjawab klw kakek bertanya?"
"Aku bilang itu urusanmu sendiri! Sekarang pergi....ayo pergi!", Bunga menghardik.
Saya menggeleng lagi.
" Aku bilang pergi....", Bunga mengambil sebuah sandal" pergi nggak? klw nggak pergi, ku lempar sandal nih...!"
Sandal itu besar dan bersol karet tebal, pasti sakit jika mengenai badan (pd saat kecil, badan sy kurus). Namun saya masih mencoba bertahan, karena saya juga tak tau bagaimana harus menghadapi sang kakek.
Bunga rupanya hilang kesabaran, dia bergegas mendekat dgn sandal di tangan siap untuk disambitkan pd saya. Sontak sy berlari menjauh. ketakutan.
Baru beberapa langkah berlari, kaki saya yg telanjang terantuk sesuatu, maka sy mulai limbung dan terhuyung- huyung dengan sakit yg sangat menyengat ujung jari kaki yg tersandung pecahan ubin. Saya terjatuh, dan parahnya, Bunga yg berlari dibelakang pun tak kuasa menghentikan larinya, seperti efek karambol dia pun ikut2 an jatuh ,tubuhnya yg besar menimpa badan kurus saya : bedebuummm!!!! Sakit sekali.
Beberapa detik kemudian, sebuah tangisan melengking memecah kesunyian. Tangisan Bunga yg melolong-lolong dgn kencang , diselingi jeritan2 amarahnya pd saya.
Saya melongo. Tubuh bunga yg sebesar itu menimpa tubuh kurus saya, dan kuku jari sy yg sedikit sempal mengucurkan darah...secara badaniah jelas kesakitan sy berlipat - lipat dari dia, tp lihatlah, siapa yg justru menangis dgn lengkingan laksana sedang menanggung lara yg tak tertahankan spt itu??? Bagaimana bisa? Betapa anehnya...


Tangisan super kencang Bunga tak lekas berhenti, malah makin menjadi,,  memancing kedatangan orang2 ke tempat kami, dan diantaranya (yg saya takutkan) sang kakek yg tergopoh-gopoh berjalan dgn memanggul sebongkah angkara murka! dan masih ada lagi ibunda Bunga, dan neneknya mengikuti di belakang sang kakek, dgn amarah yg sama menggelora dari wajah2 mereka.
Muka sang kakek yg dihias kulit wajah tebal dan hidung besar memerah, sepasang matanya melotot sempurna seakan hendak melesat keluar menatap saya yg pucat gemetaran.
" gara- gara Iwat.... gara-gara Iwat!!!", jeritan Bunga melengking , mengadu pd sang kakek
"Apa yg kamu lakukan pd cucuku? Haaa???", bentak bapak tua pensiunan polisi itu dgn suara menggelegar laksana petir membelah angkasa.
Air mata sy meleleh tanpa suara. Tubuh saya gemetaran. Gemetar krn takut, dan gemetar menahan marah dlm dada sy. Saya tidak bersalah...saya tidak bersalah...seharusnya saya tak perlu takut! Tapi mengapa saya takut? Saya takut karena kemarahan mereka itu mengabaikan keadilan! Kemarahan mereka itu sudah menjatuhkan hukuman, kendati itu tak benar, karena saya memang tak bersalah!
Ibunda dan nenek Bunga mendekat dan menghibur Bunga, sambil sibuk mencari- cari adakah sedikit luka di tubuh putri kesayangan mereka.
" Selalu kamu...bikin gara-gara saja", omel sang nenek dgn tatapan mata tajam menghujam.
"Anak bodoh....anak sialan!", maki ibunda Bunga, tak kalah galak.
Jika sj pd waktu itu tidak ada beberapa orang yg melihat, saya kira sang kakek pasti sudah melayangkan bogem mentahnya, sebagaimana yg sering dia lakukan thd orang2 terdakwa pelaku kejahatan , di tempatnya bertugas sebagai abdi negara yg terhormat.
Air mata sy meleleh, berbarengan dgn darah yg menetes dr luka di kaki yg terbuka, tp rasa sakitnya tidak terasa,,,,karena ada rasa yg jauh lebih sakit di dalam dada sy.
Andai waktu itu sy bisa menjelaskan dgn kata2 , ingin sy mengatakan protes ini : Tidak ada hierarki kekuasaan keluarga terhormat itu terhadap kami yg miskin ini. Tapi mengapa hampir semua anggota keluarga mereka merasa berhak dan layak memperlakukan kami seperti seorang atasan pd bawahannya? Kami tidak pernah menggantungkan hidup pd mereka? Kami ini hanya bertetangga. Dan( sayangnya) mengapa almarhumah ibu sy seolah-olah merasa sah-sah sj perlakuan itu kami terima? ( Ma'afkan ibuku sayang, untuk urusan sabar dan iklhas sy memang belum bisa spt ibu).



Hari itu kemudian berlalu, seperti hari2 yg lain.
Tp pada hari itu, sebuah luka menganga di hati bocah perempuan 7 tahun yg kurus dan miskin bernama Iwat.
Pada hari itu untuk pertama kali dia mempertanyakan sebuah realita dalam kehidupan yg tak bisa dia pahami, tentang makna keadilan dan kebenaran .
Hari itu, saya....si Iwat kecil mulai belajar jadi " dewasa", dengan keterpaksaan untuk menerima, dan ketiadaan daya untuk sekedar membela dirinya.
Hari itu, saya ...si Iwat kecil yg baru berusia 7(tujuh) tahun,,, sebagian dari dirinya telah dipaksa menjadi "tua" sebelum waktunya.






real story, sad story of me ^^




Jumat, 16 Oktober 2015

GURU Seharusnya KREATIF! Ketika Pendidik Tak Memahami Makna Konsistensi dan Tak Menghargai Kreatifitas Serta Imajinasi ...

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendeskriditkan seseorang atau sebuah lembaga tertentu,,,,,sekedar curahan hati dan sedikit protes sy thd sebuah kondisi. Yang (harapan saya) sebenarnya bisa jadi lebih baik,,,seandainya ada yg berpandangan sama dgn saya, dan mwmpunyai daya untuk merubahnya.



Pd awalnya, saya cukup bangga pd yayasan tempat anak sy menuntut ilmu (tidak etis jika sy sebutkan nama yayasannya, sebatas yg saya ketahui,skalanya lokal, dan tidak ada cabangnya di kota lain) karena menekankan kemandirian , pelajaran baca tulis dan hitungnya lumayan bagus sehingga anak punya bekal cukup untuk masuk bangku Sekolah Dasar kelak. Selain itu karena berbasis pesantren, pendidikan agamanya pun bagus.



Namun semakin ke sini, sy melihat ada hal-hal yg cukup "mengganggu" , bagi saya pribadi. Dalam sekolah milik yayasan yg notabene beberapa pendidiknya berasal dari keluarga pemilik yayasan, faktor kekeluargaan berkesan kuat sangat mempengaruhi obyektifitas pendidik dalam memberi perlakuan thd siswa2nya.
Misal, mengapa seperti ada guru-guru yang di istimewakan, siswa2 di kelas para guru tsb (dengan kemampuan yang rata2 sama dgn kelas lain), mendapat perlakuan yg lebih istimewa.
Jika ada lomba atau kompetisi yg penilaiannya berdasar obyektifitas juri (yg notabene berasal dari yayasan), hampir dapat dipastikan juara nya berasal dari kelas itu. Namun hal ini tidak berlaku untuk lomba yg pemenangnya langsung bisa diketahui (misal lomba lari).
Saya menyadari bahwa sekolah tsb dan yayasan pd umumnya memang mengutamakan pendidikan agama, dan kegiatan lain (seperti seni) nampaknya tidak begitu mendapat prioritas. Namun menilai sebuah kompetisi di bidang seni yang tidak memakai standard seni, bahkan seolah-olah mengabaikan kreatifitas anak, bukankah justru akan membuang kesempatan bagi sekolah dan yayasan menemukan anak berbakat yg berpotensi mengangkat nama yayasan dan mendongkrak yayasan dalam persaingan menjaring calon anak didik?



Saya agak sedikit tercengang tatkala ada sebuah lomba mewarnai di sekolah beberapa waktu lalu, dimana juri lomba adalah beberapa pimpinan yayasan. Yang membuat saya heran adalah standard penilaian beliau2 untuk karya seni yg notabene adalah bentuk kreatifitas anak, tp justru anak seolah-olah tidak boleh berkreasi sesuai imajinasi.
Dari "survey" saya (kelihatan banget klw penasaran ^_^ ), deretan pemenang nya adalah anak2 dgn 'sense of art' yang standard sekali (mohon ma'af ya anak2 ku sayang? bukan bermsksud meremehkan kalian )
mereka mewarnai obyek dgn warna standar.....langit itu biru, tanah itu coklat, daun harus hijau dll. Rupanya standar spt itu pula lah yg dianggap benar oleh para juri. Sehingga, justru.... anak2 yg sy jagokan di awal, dgn hasil karya nya yg berwarna warni dan bebas berkreasi sesuai imajinasi, khas anak-anak..."langsung terdepak". Tidak ada satu pun dari bocah2 kreatif yg saya jagokan,,,yg masuk deretan pemenang. Bahkan juara harapan sekalipun! Aneh bin ajaib!!!
Jujur, sy sedih melihat itu, sebagai orang yang dari kecil terbiasa mengikuti banyak lomba seni  (terutama seni lukis) ,yang nggak sedikit mengantongi piagam (boleh donk, sombong sedikit,,,,tp jujur lho!), dan (jelek2 gini) masa kecil sy sering mendapat undangan dari pemerintah daerah utk mendapat penghargaan prestasi2 seni, melihat 'ketidak adilan' ini, rasanya tak afdol klw tak protes ,meski berani nya saya cuma nulis di blog macam ini , hehehehe
Saya berani memastikan bahwa para juri itu sama sekali tidak menyukai seni, dan (apalagi) mengenal standar penilaian berdasar seni, dan kreatifitas anak.
Okelah,,,mereka adalah pendidik yg memprioritaskan pendidikan agama,,,,tp dimanakah mereka menempatkan kreatifitas sebagai elemen dari pendidikan itu sendiri? Ataukah tidak ada nilainya sama sekali? Jika mereka tak menyukai seni, mengapa menjadi juri seni?
Dalam dunia kreatifitas anak... tidak mengenal keharusan bahwa langit itu harus biru, bahwa daun itu harus hijau dan tanah harus coklat atau hitam!!!
Keberanian anak ber-eksplorasi dan menghadirkan imajinasi nya dalam menggambar atau mewarnai sebuah obyek, dengan warna2 yg tak lazim, goresan2 yg ceria namun orisinil,,,justru menunjukkan kecerdasan dan bakat anak tsb. Betapa anehnya ketika anak2 yg gemilang (termasuk anak sy,, kelihatan bgt sy optimis dgn bakat yg dimiliki anak sy ya? mohon dimaklumi, perasaan sy sbg ibu sama spt embok2 yg lain, hehehe ) ,,,, justru sama sekali tak mendapat 'wadah', alih-alih diperhatikan, dlm kompetisi kecil dimana merupakan kesempatan menemukan bakat anak, yg kreatif justru dianggap 'tak layak'!!!
Di dunia, dimana kreatifitas dan sebuah ide yg orisinil bisa menjadi asset dan sangat dihargai....disini, (bukan tidak mungkin kreatifitas mereka suatu saat nanti memberi sumbangsih karya yg berarti kan?), ada pendidik yg meng-eliminir karya bocah2 cerdas lantaran mrk mewarnai langit tidak dgn warna biru,,,mewarnai tanah tidak dgn warna hitam, atau melukis pohon dgn garis-garis pelangi (yg dianggap tidak sesuai standar).


Hadiah dlm sebuah perlombaan bukan hal yg teramat penting, dan Alhamdulillah anak sy santai saja dan sama sekali tidak menaruh iri atas ' keberuntungan' teman2 nya...namun pikiran idealis sy sebagai orang tua dan sbg orang yg peduli pd kreatifitas anak merasa janggal dgn apa yg sy temui di yayasan sekolah ini.
Saya (sekali lagi) sadar, bahwa prioritas yayasan ini adalah pendidikan agama,,, namun tidak ada salahnya juga jika menaruh keseriusan dlm berkesenian.


Dan satu hal lagi yg merisaukan sy,,, pihak yayasan bersikap tidak konsisten dengan memunculkan pemenang yg tidak bekerja secara independen (dibantu ibunda nya).
Sy memaklumi bahwa sang ibu adalah salah satu dr keluarga besar pemilik yayasan, bahwa (sekali lagi) ikatan kekeluargaan tidak bisa diremehkan (skeptis banget sih?),,,namun bukankah dari awal, sekolah selalu menggaris bawahi bahwa kemandirian seorang anak sangat diutamakan? bahwa setiap langkah kecil dalam kegiatan belajar dan mengajar implementasi nya adalah membuat anak semakin mandiri dan berprestasi?
Sy ingat betul tahun lalu ketika mengikuti lomba yg sama,,, ibu wali kelas anak sy (sy bangga dgn ibu yg satu ini, setidaknya beliau sy lihat yg paling obyektif dan lugas), memberi sedikit bocoran, bahwa sebetulnya karya anak sy hendak muncul sbg pemenang, tp dianulir krn si kecil memang belum mandiri,,  dan sy sangat menghargai dan memaklumi. Bukti bahwa kemandirian adalah sebuah tuntutan yg mendasari obyektifitas penilaian terhadap siswa, TAPI ....dgn munculnya kejadian yg terakhir, slogan kemandirian dan obyektifitas yg sy percaya sbg hal yg melekat pd sekolah dan yayasan ini, perlahan terdengar di telinga sy seperti sesuatu yg kosong.
Kebijaksanaan ditentukan oleh pimpinan yayasan, sepenuhnya dan tak terbantahkan. Meskipun itu mengabaikan logika dan (sedikit) melanggar prinsip.



Reaksi sy atas kejadian kecil di sekolah ini sepertinya terlalu lebay ya? Hehehe :D Mohon ma'af jika ada yg tidak berkenan.

Apapun, dibalik keluh kesah sy,,,sebagai ibu yg teramat sayang dan berharap yg terbaik untuk anak,sekolah tempat anak menimba ilmu ini tetap memberi kontribusi yg positif thd perkembangan kemampuan anak sy khususnya, dan anak yg lain umumnya. Dan sy sangat berterimakasih.



keep writing, and always care ^_^

Kamis, 01 Oktober 2015

Jangan sampai komunis hidup lagi .Say No to Communism!

Assalamu'alaikum. ^^ Tulisan ini adalah tulisan kedua sy di blog saya ini. Sekedar menyalurkan kesenangan sy menulis. Mohon ma'af jika banyak kekurangan, dan jika ada yg tidak berkenan :) Akhir September dan awal Oktober seperti ini, jaman dahulu pd masa sy masih di bangku SD, gaung dan semangat hari kesaktian Pancasila terasa sekali.
Diawali dgn pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI pd tanggal 30 September malam,dan kemudian dilanjutkan upacara memperingati hari
kesaktian pancasila keesokan hari, pd semua sekolah dan instansi.
Sangat berbeda situasi dan kondisi saat ini dimana masyarakat seolah-olah "lupa" dgn sejarah kelam negeri ini di era tahun 1965 itu.
Bahkan yg lebih mengkhawatirkan adalah hadirnya opini -opini baru-, yg menyatakan sejarah tentang peristiwa G30S/PKI yg kita kenal selama ini bukan sebuah kebenaran dan telah dibengkokkan.
Benarkah demikian?
Lebih mencengangkan lagi, ada segelintir orang yang mendorong pemerintah untuk melakukan rekonsiliasi dan meminta ma'af pada PKI.
Harus diakui bahwa pemerintah kita pd masa pasca peristiwa itu melakukan kesalahan besar dgn melakukan pembiaran, bahkan terkesan sengaja mengkonfrontir ormas yg merupakan musuh besar PKI (dalam hal ini berbagai ormas Islam spt NU, Masyumi, PNI dll ), srhingga terjadi tragedi kemanusiaan dimana ratusan ribu orang terduga pengikut PKI ,dr yg aktif sampai yg sekedar ikut2an, hingga orang2 yg bukan PKI yg terseret unsur sentimen pribadi terbunuh srcara massal, dan jenazah mereka diperlakukan secara tidak manusiawi.
Pada masa itu, dimana angka buta huruf pd masyarakat Indonesia masih sangat tinggi, mustahil penduduk desa begitu "ngeh" dan paham politik , sehingga keikut sertaan mereka pd partai tertentu besar kemungkinan hanya sekedar ikut ikutan, tanpa memahami secara detail tujuan partai. Tapi pd masa itu, golongan orang seperti ini yang justru menjadi sasaran terbesar dr operasi besar-besaran penghapusan PKI. Dibunuh dalam eksekusi massal tanpa proses peradilan!
Sy pribadi tidak dapat memahami, apa yg membuat masyarakat pd masa itu begitu mudah terpancing untuk masuk dalam konfrontasi yg berakhir saling balas dendam dan saling bunuh, dan kejadian spt itu terjadi merata hampir di seluruh pelosok negeri. Mengerikan, menyadari saudara2 kita telah menorehkan sejarah dalam gelimang darah spt itu. Yang pasti, catatan panjang kekerasan dan kebencian itu tak pelak dipicu oleh sepak terjang orang2 PKI itu sendiri.
Pemerintah memang bertanggungjawab thd tragedi kemanusiaan tsb.Dan meminta ma'af pd para korban dan keluarganya adalah sebuah wacana yg terpuji.
Namun, harus dibedakan antara PKI dalam sisi pandang partai pembelot, dgn korban tragedi 65.
Meminta maaf thd korban tragedi kemanusiaan 65 , sy rasa memang seharusnya. Tp pemerintah tidak perlu meminta maaf kpd PKI. Ini harus digaris bawahi.
Tidak perlu meminta ma'af pd PKI!
Kenapa? Karena jauh sebelum peristiwa G30S/PKI, partai komunis itu telah berulang kali melakukan upaya makar, dengan melakukan perongrongan dari dalam tubuh NKRI, berupaya menjatuhkan NKRI dan menggantikan dgn ideologi sosialis berkiblat ke Uni Sovyet, disaat republik ini masih sangat muda dan masih berjuang melawan kolonialisme.
Upaya2 mereka yg berkesan ambisius, diwarnai dengan aksi aksi sepihak yg berkesan sangat brutal, menyingkirkan pihak yg berseberangan dengan PKI.
Peristiwa Madiun tahun 1948 adalah bukti sejarah kekejaman PKI.
Tidak terhitung korban yg terbunuh secara kejam , dibantai oleh orang2 PKI dan dikubur dalam sumur-sumur maut yg tersebar di sekitar Madiun dan Magetan.
Korban kebiadaban PKI mayoritas adalah para kyai, alim ulama, pimpinan pondok pesantren, para santri, dan sebagian lain aparat pemerintah serta anggota TNI dan kepolisiaan yg loyal pd NKRI.
Korban tidak sj berasal dr Madiun dan Magetan, tp jg dr kabupaten di sekitarnya spt Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Ngawi dan masih banyak lagi.
Banyak jg catatan kejadian tentang konfrontasi PKI dgn ormas2 Islam mulai dr penyerobotan tanah, perampasan hasil panen , penganiayaan santri sampai penculikan dan pembunuhan.
Lalu, sejarah seperti apa yg harus diluruskan? Apakah PKI "bersih"? apakah PKI se begitu tak bernoda sehingga pemerintah harus meminta ma'af? Tidak.
Sejarah membuktikan PKI memang ambisius. Dan memiliki massa akar rumput yg "haus darah", itu adalah realita sejarah. Pemimpin elite nya spt DN Aidit bisa jadi terpelajar dan dr keluarga relijius, tp massa grass root nya sangat mudah melakukan aksi yg sarat kekerasan, dan sekali lagi terkesan haus darah.
Suatu era dimana kemiskinan masih merajalela, perekrutan anggota PKI yg mayoritas dari kaum buruh tani yg tertindas, yg menyimpan protes ketidak adilan akan ketidakmampuan melawan kaum pemegang modal , propaganda PKI untuk menuntut penyama-rata an dalam segala hal, ibarat menyulut api di dalam sekam.
Kemarahan, ketidak puasan, dibakar oleh pidato dan propaganda pengobar semangat dari para pentolan partai, maka gerombolan simpatisan itu menjadi beringas.

Bahkan sy sbg penulis artikel ini, mempunyai cerita tersendiri dimana almarhum kakek sy yg seorang pemuka agama (meski skala cuma tingkat desa) sering mendapat teror dan ancaman dari unsur Pemoeda Rakjat (salah satu ormas PKI).Pd masa menjelang G30S/PKI, almarhum ibu sy masih berusia 12 tahun, namun ada banyak cerita yg sy dapatkan dr " rekaman" kesaksian langsung beliau tentang kejamnya aksi2 orang2 PKI.
Seperti yg digambarkan dalam film pengkhianatan G30S/PKI, itu memang tidak jauh dr realita sesungguhnya. Terlepas campur tangan orde baru membuatnya jd "lebay", dan semakin menyudutkan PKI, namun aksi2 kaum komunis pd masa itu memang brutal dan massive. Orde baru yg anti komunis menciptakan paradigma yang melekat kuat pd generasi yg lahir pd masa kepemimpinan presiden Soeharto bahwa komunis umumnya dan PKI khususnya ibarat iblis laknat yg patut dihancurkan. Barangkali ini tidak sepenuhnya benar, tetapi tidak juga bisa dikatakan sepenuhnya salah.
Yg patut disayangkan adalah tidak diberinya kesempatan bagi orang2 PKI untuk memberikan penjelasan dlm sebuah forum peradilan.
Paham komunis memang tak layak hidup di Indonesia yg berazas Pancasila, PKI memang seharusnya diberangus, tapi bukan berarti orang2 nya tidak mendapatkan hak untuk hidup.
Yang harus disingkirkan adalah ideologi nya, namun orang2 nya seharusnya mendapat rehabilitasi, bukan diberangus pula dgn cara yg jauh dari kesan bangsa yg bermartabat.
Jika pemerintah melakukan rekonsiliasi, kami mendukung thd para korban tragedi 65, tp bukan permintaan maaf pd PKI.
Seandainya komunis mendapatkan angin segar sehingga hidup kembali, dapatkah mereka hidup berdampingan secara harmonis dgn unsur masyarakat lain? Dapatkah kehidupan beragama damai dan harmoni bila komunis menjadi salah satu penentu kebijakan dlm kehidupan masyarakat kita?
Kepercayaan masyarakat yg menganggap komunis itu atheis atau tak mengenal Tuhan memang tak sepenuhnya benar, tetapi sekulerisme dan sikap antipati mereka pd golongan agama sudah pasti tidak akan melahirkan suasana yg kondusif untuk kehidupan beragama di Indonesia tercinta ini.
Sy sbg orang awam, sy tidak bisa memahami mengapa pemimpin pd masa itu seolah-olah merangkul komunis , menjadikan kelompok itu partisan dalam pemilihan umum dan meramaikan kehidupan demokrasi(padahal mereka sudah pernah melakukan pemberontakan pd tahun 1948), yg membuat posisi mereka kuat secara legitimasi. Karena dari literatur yg sy baca, komunis yg berkuasa hanya menghalalkan satu partai yaitu partai mereka sendiri, segala kebijakan bersumber dari pucuk pimpinan , segala hal dalam kehidupan masyarakatnya dibatasi , menjadikan rakyat patuh karena rasa takut , tidak ada kebebasan ber ekspresi , membatasi interaksi dgn dunia luar dll. Contoh nya adalah Korea Utara
. Jika komunis dlm hal ini PKI (diperbolehkan) meraih massa dan (kemungkinan) bisa menang, bahaimana dgn kehidupan berpolitik selanjutnya? apakah akan ada kehidupan berdemokrasi jika komunis yg berkuasa?
Pertimbangan pemimpin kita pd masa itu barangkali adalah pertimbangan seorang pemimpin sekaliber negara yg ingin meng akurkan semua elemen negara, yg tidak akan mungkin dipahami kami yg awan ini.
Jika ada generasi srkarang yg dengan enteng mengatakan menerima paham komunis padahal mereka sama sekali tidak tahu apa itu komunis,,,,ada baiknya mereka berpikir ulang.