Terlahir sebagai a quiet person by nature, pada masa kecil dan remaja saya memang cenderung sangat pendiam.
Saking pendiam, saya bahkan merasa canggung tatkala harus berbaur dengan teman-teman sebaya dan sekolah.
Saya hanya memiliki beberapa teman, dan dengan mereka saya merasa nyaman.
Entah persisnya kapan saya perlahan berubah menjadi pendiam, mungkin tatkala saya mulai suka mengembara dgn pikiran saya, dan tatkala mulai banyak bermunculan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup. Mengapa, dan Kenapa,,,Mengapa ini begini dan kenapa itu begitu.
Almarhumah ibu saya bilang: "kamu itu rumit Nduk,,,, pikiran terlalu jauh, jangan banyak berpikir, jalani saja semua yang tersaji di jalan hidupmu sewajarnya, dan ingat harus selalu sabar dan mengalah".
Ibu saya benar. Pikiran saya yg terlalu jauh, membuat semakin banyak pertanyaan berkumpul di benak saya, dan semakin banyak keadaan yang tidak bisa saya pahami pd masa2 remaja itu.
Satu yang sering sekali membuat saya bingung : Mengapa Allah sedemikian rupa membuat manusia terlahir dgn nasib berbeda? Mengapa ada yg terlahir kaya? ada yg miskin? Mengapa ada yang cantik atau tampan dan mengapa ada yg tidak? Dan mengapa ada yg hidupnya sedemikian rupa diamugerahi kemudahan dan keberuntungan, sedangkan sebagian lain seolah-olah tak berhak mengecap kebahagiaan, bahkan seolah- olah tak berhak untuk sekedar punya pilihan? (dan,,,saya merasa berada di golongan yg kedua ini ).
Usia remaja sy pd waktu itu memang belum cukup mampu menyerap dan meng ejawantahkan makna kasih sayang Allah dibalik setiap ujian dan jalan berliku serta bertubi-tubi nya cobaan yg datang dlm kehidupan kami.
Almarhumah ibu saya mengajarkan untuk senantiasa berprasangka baik terhadap setiap orang dan setiap kejadian. Dan ibu benar2 menerapkannya dlm sikap sehari-hari. Untuk urusan sabar dan nerimo, almarhumah ibu sungguh tiada duanya.
Saya pernah mencoba berpikir dan bersikap spt ibu saya, mencoba percaya semua orang baik dan semua orang tak suka membeda- bedakan manusia berdasar apa yg dimilikinya, kekayaannya atau penampilan fisiknya. Namun, srmakin beranjak dewasa, semakin banyak yg sy lihat, semakin saya menyadari bahwa sebagian besar manusia justru bersikap sebaliknya dari apa yg hendak dan ingin saya percaya.
Sebagian besar manusia suka membeda,-bedakan sikap dan perlakuannya terhadap manusia lain berdasar apa yg dimilikinya (pangkat, kedudukan, atau memiliki sesuatu yg dapat 'dimanfaatkan), kekayaan yg dipercaya bisa mengangkat martabat dan kehormatan, dan kecantikan serta kegagahan jasmaniah.
Ketika sy kanak-kanak pun, sy sudah bs merasakan diskriminasi terhadap kaum miskin, spt keluarga sy.
Sebagaimana seorang ibu terhormat di lingkungan tempat tinggal kami yg selalu memanggil almarhumah ibu sy dengan panggilan yg didahului awalan "si".
Seperti penyebutan si Polan, atau si Fulan.
Berbeda dgn cara dia menyebut dan memanggil ibu2 dari sesama kalangan terhormat lain yg dgn sebutan " jeng" , yg tentu mengandung konotasi berbeda.
Dalam sebuah arisan ibu2 lingkungan, sy pernah menyaksikan sendiri, almarhum ibu dilarang secara halus untuk duduk di kursi baru seorang ibu terhormat, yaitu seperangkat kursi kayu jati berukir dr Jepara, dan mempersilakan ibu duduk di kursi lain di ruangan itu. " Jangan disitu,,,itu khusus untuk tempat duduk jeng X dan jeng Y ", demikian penjelasan si nyonya. Astagfirullah, bahkan tempat duduk pun manusia membuat sekat dan perbedaan spt itu.
Padahal, niat almarhumah ibu untuk duduk di kursi itu bukan lantaran ingin merasakan nikmatnya duduk di kursi mahal, melainkan krn posisi nya sbg pemegang buku arisan,dan ketua dasawisma yg harus memberikan sambutan, setidaknya posisi duduknya terlihat oleh hadirin yg lain.
Berbagai hinaan secara langsung, maupun berbalut candaan , hampir setiap hari kami terima,
jika ada sedikit selisih paham, maka makian dan umpatan kotor akan mudah sekali berhamburan dr bibir si nyonya, bukan hanya kpd ibuku tp jg pd orang lain, yg merupakan kaum dr 'kasta' yg dianggapnya rendah.
namun herannya almarhum ibu spt tidak pernah terusik dgn sikap2 spt itu, bahkan menanggapinya dgn senyuman. Ibuku sungguh hebat!
Ibuku cantik, cerdas, pandai mengaji, pintar bergaul dan beradaptasi di berbagai kalangan. Meski cuma golongan 2, bapakku seorang pegawai negeri jd ibuku secara otomatis tergabung dlm perkumpulan darma wanita. Bukan sekedar anggota biasa, melainkan Darma wanita yg aktif berkegiatan spt menjadi perwakilan kantor untuk mengisi kegiatan kesenian gabungan dgn instansi lain, main kolintang, jd komandan baris berbaris, jadi kapten volley, jadi ketua perkumpulan pengajian, dan lain2 masih banyak torehan kepiawaian ibuku.
Namun semua itu tidak merubah kenyataan bahwa kami orang miskin, dan karena kami miskin rupanya apapun kelebihan yg dimiliki ibu sy almarhumah jd tak bermakna di mata sebagian orang terutama nyonya terhormat tetangga kami itu, dan tidak pernah mempengaruhi sikapnya untuk sekedar (sedikit saja) lebih lembut dan baik pd ibuku...ini adalah fakta!
Andai setiap perlakuan tidak baik yg kami terima sepanjang masa kecil hingga dewasa sy ,akibat rendahnya strata sosial kami ini saya tulis, pasti akan menghabiskan banyak halaman di blog ini,,,,atau malah bisa disusun menjadi buku!!! Antara perasaan berdosa saya pd Yang Maha Kuasa karena sikap kritis sy pada keadaan yang terkadang jadi sedikit menggeser rasa syukur sy akan tidak terhitungnya nikmat yg Allah berikan, membuat sy selalu menimbang-nimbang : layak;-kah hal seperti ini menjadi sesuatu yg mengganggu ketentraman hati? Bagaimanapun kondisi kami, bagaimanapun banyak cobaan dan ujian, bagaimanapun tak terhitung torehan kepedihan yg menguras air mata dlm perjalanan hidup ini,,,saya sangat bersyukur menjadi diri sy apa adanya. Saya merasa diberkahi.
Diberkahi karena dalam beberapa hal Allah telah membimbing sy meraih pencapaian melampaui apa yg bisa diraih oleh mereka yg terlahir dlm situasi dan kondisi yg sama. Kendati pencapaian itu bukan tentang kuantitas materi.
Saya sangat percaya, dibalik setiap ujian yg seolah tiada henti, cinta kasih Allah pd hambanya ini tiada bertepi.
Bagi bunda pembaca yg biasa menonton acara siang hari di ANtv , pernah menonton serial "Utarran"? Serial TV anak2 dari India yg mengisahkan kehidupan gadis kecil yg lugu dan berasal dari keluarga miskin,,,hampir seperti itulah kehidupan masa kecil sy, bahkan sedikit lebih complicated.
Tidak terhitung pertanyaan sy kpd Tuhan dalam do'a dan lelehan air mata seorang kanak-kanak yg sulit mencerna tatkala cobaan hidup " memaksa"nya untuk hanya punya satu pilihan: sabar dan menerima, yg berujung pd tanya : dimana letak keadilan ya Allah ya Tuhanku?
Ada sekelumit kisah yg terekam dalam ingatan saya tentang masa kanak2 , kisah duka namun bercampur lucu yg mengundang senyum sekaligus kesedihan saat mengingatnya.
Pada setiap menjelang akhir bulan, dompet ibuku hampir selalu tak terisi uang sepeserpun ,,, meski sekedar recehan sekalipun ( sungguh ter-la-lu... ).Memaksa ibuku selalu berhutang ke sebuah warung sekedar untuk membeli beberapa kilo beras , sebungkus mie atau sebungkus ikan asin untuk mengganjal perut anak2nya yg kelaparan. Bagaimana judes dan galaknya tampang pemilik warung tiap kali ibu sy datang, masih tergambar jelas dlm ingatan sy. Kami mengerti sebagai penjual yg beromzet tidak terlalu besar, pembeli yg ber hutang pasti mengurangi omzet penjualannya.Omelan dan bentakannya saat meladeni ibu sukses menyiutkan nyali kanak2 sy, yg sering melihat kejadian itu (karena sy suka ikut kemanapun ibu pergi), namun tidak menyurutkan ketegaran ibuku ,yg tetap memilih menepis sendiri perasaan terhina , demi bisa memberi makan anak2 nya. Tapi sikap pemilik warung biasanya akan berubah drastis dan penuh senyum bila awal bulan tiba, karena sehabis menerima gaji bulanan dari ayah, ibu bakal bergegas membayar utang2 nya ,hehehe :D
Di masa kanak-kanak, saya hampir tidak pernah membeli baju. Semua pakaian yg sy kenakan nyaris semua adalah pemberian orang. Alhamdulillah sy sangat gembira tatkala menerima pemberian itu. Serasa menerima harta karun yg sangat berharga. Apalagi jika pemberian itu ada baju yang masih bagus.Begitu terbiasa menerima seadanya sampai kadang tak terpikirkan untuk bisa spt orang lain. Rasanya pd saat itu, hal yg sederhana itu sudah cukup bagi kami.
Pd waktu itu, sy tak melihat bahwa miskin dan tak punya uang itu sebuah ketidakberdayaan. Sy bisa menemukan kegembiraan dan tawa ketika berjalan2 k kebun dan menemukan sebutir telur yg ditinggalkan si induk ayam, melihat orang memanen buah dari pohon dan memberi saya beberapa butir jambu, atau menemukan sepasang sandal butut yg ternyata masih bisa dipakai setelah dibersihkan.
Satu2 nya hal yg membuat saya merasa tidak berdaya menjadi si miskin adalah SIKAP MANUSIA nya!!!
Ya, sikap diskriminasi orang lain yg notabene kaya dan berkecukupan (seperti sikap nyonya terhormat tetangga kpd almarhumah ibu sy ), terhadap kaum miskin.
Pelajaran pertama tentang hidup dan pengembaraan pikiran sy dimulai dr sini . Bahwa dr semua hal yg menakutkan di dunia ini, ada satu hal yg paling menakutkan dan perbuatannya sering meninggalkan luka : manusia!
Namanya Bunga (bukan nama sebenarnya).Usianya satu tahun di atas sy. Cantik, putih, dgn rambut yg ikal dan badan berisi. Dia putri si ibu terhormat tetangga kami.
Kami suka bermain bersama, meski sy sering kesal dlm hati, karena Bunga hobbynya main perintah dan main suruh saja. Jika saya tak menuruti kemauannya, dia mudah marah dan mengeluarkan 'senjata andalan' nya : tangisan yg melengking- lengking spt orang kesakitan.
Tangisannya sungguh berlebihan, untuk hal yg amat sepele sekalipun.
Suatu sore, sy sedang berdiam di rumah ketika tiba2 sesosok tinggi besar memasuki rumah kami tanpa permisi. Sy mendongak, dan melihat kakek Bunga, seorang pensiunan bintara polisi berkacak pinggang di depan sy.
"Mana Bunga? kau ajak bermain ya?", tanya sang kakek tanpa basa-basi.
" Tidak kek,,,sy dari tadi main di rumah" , jawab sy dgn hati mengkerut.
"Halah...!!!" ,hardik sang kakek "cari sana! cepat! biasanya kamu yg ajak main dia !"
Saya kebingungan, memandang ibunda saya. Mengapa sy yg harus mencari? Bukankah sy tak bermain bersama? Mengapa seolah-olah ini jadi kesalahan sy? Bunga anak yg bossy, dan notabene lebih tua, dia punya kemauan sendiri, tidak mungkin dia hanya menjadi pengikut saya kan?mengapa sy yg harus bertanggungjawab tentang keberadaannya? Protes2 itu hanya bisa berkecamuk dalam hati saja karena saya tak punya nyali mengucapkannya.
Ibunda ku tersenyum sareh,"sudahlah Nduk,,,tidak apa2...coba cari mbak Bunga ya?"
Sambil berjalan kesana kemari mencari Bunga, berbagai pertanyaan terus sj mengusik benak kanak2 saya. Tidak adil,, tidak adil ,, ! begitu gumam hati saya.
Sampai kemudian sy menemukan Bunga asyik bermain di rumah tetangga kami yg lain.
"Mbak Bunga, dicari kakek...disuruh pulang!", kata saya.
" Ogah....aku masih mau main",jawab Bunga sambil pasang tampang judes.
"Tapi kakek nyariin, nanti bagaimana saya menjawabnya?", kata saya lagi.
" Aku masih mau main! titik! kamu ini memang siapa sih? ganggu aja...", Bunga mendelik.
"Kakek Mbak Bunga bilang,,,suruh pulang. Saya harus jawab apa?", saya mulai bingung.
" Urusan mu...urus saja sendiri,,,memang kamu siapa? memang kamu apaku?" Bunga tetap bersikeras.
Lalu kenapa urusan mencari Bunga menjadi urusan saya ya? tanya saya dalam hati.
Karena tak tau harus bagaimana saya memutuskan untuk duduk menunggu. Namun rupanya itu memicu amarah Bunga
"Ngapain disitu? pergi sana .....!"
Saya menggeleng,"Nanti gimana saya menjawab klw kakek bertanya?"
"Aku bilang itu urusanmu sendiri! Sekarang pergi....ayo pergi!", Bunga menghardik.
Saya menggeleng lagi.
" Aku bilang pergi....", Bunga mengambil sebuah sandal" pergi nggak? klw nggak pergi, ku lempar sandal nih...!"
Sandal itu besar dan bersol karet tebal, pasti sakit jika mengenai badan (pd saat kecil, badan sy kurus). Namun saya masih mencoba bertahan, karena saya juga tak tau bagaimana harus menghadapi sang kakek.
Bunga rupanya hilang kesabaran, dia bergegas mendekat dgn sandal di tangan siap untuk disambitkan pd saya. Sontak sy berlari menjauh. ketakutan.
Baru beberapa langkah berlari, kaki saya yg telanjang terantuk sesuatu, maka sy mulai limbung dan terhuyung- huyung dengan sakit yg sangat menyengat ujung jari kaki yg tersandung pecahan ubin. Saya terjatuh, dan parahnya, Bunga yg berlari dibelakang pun tak kuasa menghentikan larinya, seperti efek karambol dia pun ikut2 an jatuh ,tubuhnya yg besar menimpa badan kurus saya : bedebuummm!!!! Sakit sekali.
Beberapa detik kemudian, sebuah tangisan melengking memecah kesunyian. Tangisan Bunga yg melolong-lolong dgn kencang , diselingi jeritan2 amarahnya pd saya.
Saya melongo. Tubuh bunga yg sebesar itu menimpa tubuh kurus saya, dan kuku jari sy yg sedikit sempal mengucurkan darah...secara badaniah jelas kesakitan sy berlipat - lipat dari dia, tp lihatlah, siapa yg justru menangis dgn lengkingan laksana sedang menanggung lara yg tak tertahankan spt itu??? Bagaimana bisa? Betapa anehnya...
Tangisan super kencang Bunga tak lekas berhenti, malah makin menjadi,, memancing kedatangan orang2 ke tempat kami, dan diantaranya (yg saya takutkan) sang kakek yg tergopoh-gopoh berjalan dgn memanggul sebongkah angkara murka! dan masih ada lagi ibunda Bunga, dan neneknya mengikuti di belakang sang kakek, dgn amarah yg sama menggelora dari wajah2 mereka.
Muka sang kakek yg dihias kulit wajah tebal dan hidung besar memerah, sepasang matanya melotot sempurna seakan hendak melesat keluar menatap saya yg pucat gemetaran.
" gara- gara Iwat.... gara-gara Iwat!!!", jeritan Bunga melengking , mengadu pd sang kakek
"Apa yg kamu lakukan pd cucuku? Haaa???", bentak bapak tua pensiunan polisi itu dgn suara menggelegar laksana petir membelah angkasa.
Air mata sy meleleh tanpa suara. Tubuh saya gemetaran. Gemetar krn takut, dan gemetar menahan marah dlm dada sy. Saya tidak bersalah...saya tidak bersalah...seharusnya saya tak perlu takut! Tapi mengapa saya takut? Saya takut karena kemarahan mereka itu mengabaikan keadilan! Kemarahan mereka itu sudah menjatuhkan hukuman, kendati itu tak benar, karena saya memang tak bersalah!
Ibunda dan nenek Bunga mendekat dan menghibur Bunga, sambil sibuk mencari- cari adakah sedikit luka di tubuh putri kesayangan mereka.
" Selalu kamu...bikin gara-gara saja", omel sang nenek dgn tatapan mata tajam menghujam.
"Anak bodoh....anak sialan!", maki ibunda Bunga, tak kalah galak.
Jika sj pd waktu itu tidak ada beberapa orang yg melihat, saya kira sang kakek pasti sudah melayangkan bogem mentahnya, sebagaimana yg sering dia lakukan thd orang2 terdakwa pelaku kejahatan , di tempatnya bertugas sebagai abdi negara yg terhormat.
Air mata sy meleleh, berbarengan dgn darah yg menetes dr luka di kaki yg terbuka, tp rasa sakitnya tidak terasa,,,,karena ada rasa yg jauh lebih sakit di dalam dada sy.
Andai waktu itu sy bisa menjelaskan dgn kata2 , ingin sy mengatakan protes ini : Tidak ada hierarki kekuasaan keluarga terhormat itu terhadap kami yg miskin ini. Tapi mengapa hampir semua anggota keluarga mereka merasa berhak dan layak memperlakukan kami seperti seorang atasan pd bawahannya? Kami tidak pernah menggantungkan hidup pd mereka? Kami ini hanya bertetangga. Dan( sayangnya) mengapa almarhumah ibu sy seolah-olah merasa sah-sah sj perlakuan itu kami terima? ( Ma'afkan ibuku sayang, untuk urusan sabar dan iklhas sy memang belum bisa spt ibu).
Hari itu kemudian berlalu, seperti hari2 yg lain.
Tp pada hari itu, sebuah luka menganga di hati bocah perempuan 7 tahun yg kurus dan miskin bernama Iwat.
Pada hari itu untuk pertama kali dia mempertanyakan sebuah realita dalam kehidupan yg tak bisa dia pahami, tentang makna keadilan dan kebenaran .
Hari itu, saya....si Iwat kecil mulai belajar jadi " dewasa", dengan keterpaksaan untuk menerima, dan ketiadaan daya untuk sekedar membela dirinya.
Hari itu, saya ...si Iwat kecil yg baru berusia 7(tujuh) tahun,,, sebagian dari dirinya telah dipaksa menjadi "tua" sebelum waktunya.
real story, sad story of me ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar