Kamis, 01 Oktober 2015

Jangan sampai komunis hidup lagi .Say No to Communism!

Assalamu'alaikum. ^^ Tulisan ini adalah tulisan kedua sy di blog saya ini. Sekedar menyalurkan kesenangan sy menulis. Mohon ma'af jika banyak kekurangan, dan jika ada yg tidak berkenan :) Akhir September dan awal Oktober seperti ini, jaman dahulu pd masa sy masih di bangku SD, gaung dan semangat hari kesaktian Pancasila terasa sekali.
Diawali dgn pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI pd tanggal 30 September malam,dan kemudian dilanjutkan upacara memperingati hari
kesaktian pancasila keesokan hari, pd semua sekolah dan instansi.
Sangat berbeda situasi dan kondisi saat ini dimana masyarakat seolah-olah "lupa" dgn sejarah kelam negeri ini di era tahun 1965 itu.
Bahkan yg lebih mengkhawatirkan adalah hadirnya opini -opini baru-, yg menyatakan sejarah tentang peristiwa G30S/PKI yg kita kenal selama ini bukan sebuah kebenaran dan telah dibengkokkan.
Benarkah demikian?
Lebih mencengangkan lagi, ada segelintir orang yang mendorong pemerintah untuk melakukan rekonsiliasi dan meminta ma'af pada PKI.
Harus diakui bahwa pemerintah kita pd masa pasca peristiwa itu melakukan kesalahan besar dgn melakukan pembiaran, bahkan terkesan sengaja mengkonfrontir ormas yg merupakan musuh besar PKI (dalam hal ini berbagai ormas Islam spt NU, Masyumi, PNI dll ), srhingga terjadi tragedi kemanusiaan dimana ratusan ribu orang terduga pengikut PKI ,dr yg aktif sampai yg sekedar ikut2an, hingga orang2 yg bukan PKI yg terseret unsur sentimen pribadi terbunuh srcara massal, dan jenazah mereka diperlakukan secara tidak manusiawi.
Pada masa itu, dimana angka buta huruf pd masyarakat Indonesia masih sangat tinggi, mustahil penduduk desa begitu "ngeh" dan paham politik , sehingga keikut sertaan mereka pd partai tertentu besar kemungkinan hanya sekedar ikut ikutan, tanpa memahami secara detail tujuan partai. Tapi pd masa itu, golongan orang seperti ini yang justru menjadi sasaran terbesar dr operasi besar-besaran penghapusan PKI. Dibunuh dalam eksekusi massal tanpa proses peradilan!
Sy pribadi tidak dapat memahami, apa yg membuat masyarakat pd masa itu begitu mudah terpancing untuk masuk dalam konfrontasi yg berakhir saling balas dendam dan saling bunuh, dan kejadian spt itu terjadi merata hampir di seluruh pelosok negeri. Mengerikan, menyadari saudara2 kita telah menorehkan sejarah dalam gelimang darah spt itu. Yang pasti, catatan panjang kekerasan dan kebencian itu tak pelak dipicu oleh sepak terjang orang2 PKI itu sendiri.
Pemerintah memang bertanggungjawab thd tragedi kemanusiaan tsb.Dan meminta ma'af pd para korban dan keluarganya adalah sebuah wacana yg terpuji.
Namun, harus dibedakan antara PKI dalam sisi pandang partai pembelot, dgn korban tragedi 65.
Meminta maaf thd korban tragedi kemanusiaan 65 , sy rasa memang seharusnya. Tp pemerintah tidak perlu meminta maaf kpd PKI. Ini harus digaris bawahi.
Tidak perlu meminta ma'af pd PKI!
Kenapa? Karena jauh sebelum peristiwa G30S/PKI, partai komunis itu telah berulang kali melakukan upaya makar, dengan melakukan perongrongan dari dalam tubuh NKRI, berupaya menjatuhkan NKRI dan menggantikan dgn ideologi sosialis berkiblat ke Uni Sovyet, disaat republik ini masih sangat muda dan masih berjuang melawan kolonialisme.
Upaya2 mereka yg berkesan ambisius, diwarnai dengan aksi aksi sepihak yg berkesan sangat brutal, menyingkirkan pihak yg berseberangan dengan PKI.
Peristiwa Madiun tahun 1948 adalah bukti sejarah kekejaman PKI.
Tidak terhitung korban yg terbunuh secara kejam , dibantai oleh orang2 PKI dan dikubur dalam sumur-sumur maut yg tersebar di sekitar Madiun dan Magetan.
Korban kebiadaban PKI mayoritas adalah para kyai, alim ulama, pimpinan pondok pesantren, para santri, dan sebagian lain aparat pemerintah serta anggota TNI dan kepolisiaan yg loyal pd NKRI.
Korban tidak sj berasal dr Madiun dan Magetan, tp jg dr kabupaten di sekitarnya spt Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Ngawi dan masih banyak lagi.
Banyak jg catatan kejadian tentang konfrontasi PKI dgn ormas2 Islam mulai dr penyerobotan tanah, perampasan hasil panen , penganiayaan santri sampai penculikan dan pembunuhan.
Lalu, sejarah seperti apa yg harus diluruskan? Apakah PKI "bersih"? apakah PKI se begitu tak bernoda sehingga pemerintah harus meminta ma'af? Tidak.
Sejarah membuktikan PKI memang ambisius. Dan memiliki massa akar rumput yg "haus darah", itu adalah realita sejarah. Pemimpin elite nya spt DN Aidit bisa jadi terpelajar dan dr keluarga relijius, tp massa grass root nya sangat mudah melakukan aksi yg sarat kekerasan, dan sekali lagi terkesan haus darah.
Suatu era dimana kemiskinan masih merajalela, perekrutan anggota PKI yg mayoritas dari kaum buruh tani yg tertindas, yg menyimpan protes ketidak adilan akan ketidakmampuan melawan kaum pemegang modal , propaganda PKI untuk menuntut penyama-rata an dalam segala hal, ibarat menyulut api di dalam sekam.
Kemarahan, ketidak puasan, dibakar oleh pidato dan propaganda pengobar semangat dari para pentolan partai, maka gerombolan simpatisan itu menjadi beringas.

Bahkan sy sbg penulis artikel ini, mempunyai cerita tersendiri dimana almarhum kakek sy yg seorang pemuka agama (meski skala cuma tingkat desa) sering mendapat teror dan ancaman dari unsur Pemoeda Rakjat (salah satu ormas PKI).Pd masa menjelang G30S/PKI, almarhum ibu sy masih berusia 12 tahun, namun ada banyak cerita yg sy dapatkan dr " rekaman" kesaksian langsung beliau tentang kejamnya aksi2 orang2 PKI.
Seperti yg digambarkan dalam film pengkhianatan G30S/PKI, itu memang tidak jauh dr realita sesungguhnya. Terlepas campur tangan orde baru membuatnya jd "lebay", dan semakin menyudutkan PKI, namun aksi2 kaum komunis pd masa itu memang brutal dan massive. Orde baru yg anti komunis menciptakan paradigma yang melekat kuat pd generasi yg lahir pd masa kepemimpinan presiden Soeharto bahwa komunis umumnya dan PKI khususnya ibarat iblis laknat yg patut dihancurkan. Barangkali ini tidak sepenuhnya benar, tetapi tidak juga bisa dikatakan sepenuhnya salah.
Yg patut disayangkan adalah tidak diberinya kesempatan bagi orang2 PKI untuk memberikan penjelasan dlm sebuah forum peradilan.
Paham komunis memang tak layak hidup di Indonesia yg berazas Pancasila, PKI memang seharusnya diberangus, tapi bukan berarti orang2 nya tidak mendapatkan hak untuk hidup.
Yang harus disingkirkan adalah ideologi nya, namun orang2 nya seharusnya mendapat rehabilitasi, bukan diberangus pula dgn cara yg jauh dari kesan bangsa yg bermartabat.
Jika pemerintah melakukan rekonsiliasi, kami mendukung thd para korban tragedi 65, tp bukan permintaan maaf pd PKI.
Seandainya komunis mendapatkan angin segar sehingga hidup kembali, dapatkah mereka hidup berdampingan secara harmonis dgn unsur masyarakat lain? Dapatkah kehidupan beragama damai dan harmoni bila komunis menjadi salah satu penentu kebijakan dlm kehidupan masyarakat kita?
Kepercayaan masyarakat yg menganggap komunis itu atheis atau tak mengenal Tuhan memang tak sepenuhnya benar, tetapi sekulerisme dan sikap antipati mereka pd golongan agama sudah pasti tidak akan melahirkan suasana yg kondusif untuk kehidupan beragama di Indonesia tercinta ini.
Sy sbg orang awam, sy tidak bisa memahami mengapa pemimpin pd masa itu seolah-olah merangkul komunis , menjadikan kelompok itu partisan dalam pemilihan umum dan meramaikan kehidupan demokrasi(padahal mereka sudah pernah melakukan pemberontakan pd tahun 1948), yg membuat posisi mereka kuat secara legitimasi. Karena dari literatur yg sy baca, komunis yg berkuasa hanya menghalalkan satu partai yaitu partai mereka sendiri, segala kebijakan bersumber dari pucuk pimpinan , segala hal dalam kehidupan masyarakatnya dibatasi , menjadikan rakyat patuh karena rasa takut , tidak ada kebebasan ber ekspresi , membatasi interaksi dgn dunia luar dll. Contoh nya adalah Korea Utara
. Jika komunis dlm hal ini PKI (diperbolehkan) meraih massa dan (kemungkinan) bisa menang, bahaimana dgn kehidupan berpolitik selanjutnya? apakah akan ada kehidupan berdemokrasi jika komunis yg berkuasa?
Pertimbangan pemimpin kita pd masa itu barangkali adalah pertimbangan seorang pemimpin sekaliber negara yg ingin meng akurkan semua elemen negara, yg tidak akan mungkin dipahami kami yg awan ini.
Jika ada generasi srkarang yg dengan enteng mengatakan menerima paham komunis padahal mereka sama sekali tidak tahu apa itu komunis,,,,ada baiknya mereka berpikir ulang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar