Pd awalnya, saya cukup bangga pd yayasan tempat anak sy menuntut ilmu (tidak etis jika sy sebutkan nama yayasannya, sebatas yg saya ketahui,skalanya lokal, dan tidak ada cabangnya di kota lain) karena menekankan kemandirian , pelajaran baca tulis dan hitungnya lumayan bagus sehingga anak punya bekal cukup untuk masuk bangku Sekolah Dasar kelak. Selain itu karena berbasis pesantren, pendidikan agamanya pun bagus.
Namun semakin ke sini, sy melihat ada hal-hal yg cukup "mengganggu" , bagi saya pribadi. Dalam sekolah milik yayasan yg notabene beberapa pendidiknya berasal dari keluarga pemilik yayasan, faktor kekeluargaan berkesan kuat sangat mempengaruhi obyektifitas pendidik dalam memberi perlakuan thd siswa2nya.
Misal, mengapa seperti ada guru-guru yang di istimewakan, siswa2 di kelas para guru tsb (dengan kemampuan yang rata2 sama dgn kelas lain), mendapat perlakuan yg lebih istimewa.
Jika ada lomba atau kompetisi yg penilaiannya berdasar obyektifitas juri (yg notabene berasal dari yayasan), hampir dapat dipastikan juara nya berasal dari kelas itu. Namun hal ini tidak berlaku untuk lomba yg pemenangnya langsung bisa diketahui (misal lomba lari).
Saya menyadari bahwa sekolah tsb dan yayasan pd umumnya memang mengutamakan pendidikan agama, dan kegiatan lain (seperti seni) nampaknya tidak begitu mendapat prioritas. Namun menilai sebuah kompetisi di bidang seni yang tidak memakai standard seni, bahkan seolah-olah mengabaikan kreatifitas anak, bukankah justru akan membuang kesempatan bagi sekolah dan yayasan menemukan anak berbakat yg berpotensi mengangkat nama yayasan dan mendongkrak yayasan dalam persaingan menjaring calon anak didik?
Saya agak sedikit tercengang tatkala ada sebuah lomba mewarnai di sekolah beberapa waktu lalu, dimana juri lomba adalah beberapa pimpinan yayasan. Yang membuat saya heran adalah standard penilaian beliau2 untuk karya seni yg notabene adalah bentuk kreatifitas anak, tp justru anak seolah-olah tidak boleh berkreasi sesuai imajinasi.
Dari "survey" saya (kelihatan banget klw penasaran ^_^ ), deretan pemenang nya adalah anak2 dgn 'sense of art' yang standard sekali (mohon ma'af ya anak2 ku sayang? bukan bermsksud meremehkan kalian )
mereka mewarnai obyek dgn warna standar.....langit itu biru, tanah itu coklat, daun harus hijau dll. Rupanya standar spt itu pula lah yg dianggap benar oleh para juri. Sehingga, justru.... anak2 yg sy jagokan di awal, dgn hasil karya nya yg berwarna warni dan bebas berkreasi sesuai imajinasi, khas anak-anak..."langsung terdepak". Tidak ada satu pun dari bocah2 kreatif yg saya jagokan,,,yg masuk deretan pemenang. Bahkan juara harapan sekalipun! Aneh bin ajaib!!!
Jujur, sy sedih melihat itu, sebagai orang yang dari kecil terbiasa mengikuti banyak lomba seni (terutama seni lukis) ,yang nggak sedikit mengantongi piagam (boleh donk, sombong sedikit,,,,tp jujur lho!), dan (jelek2 gini) masa kecil sy sering mendapat undangan dari pemerintah daerah utk mendapat penghargaan prestasi2 seni, melihat 'ketidak adilan' ini, rasanya tak afdol klw tak protes ,meski berani nya saya cuma nulis di blog macam ini , hehehehe
Saya berani memastikan bahwa para juri itu sama sekali tidak menyukai seni, dan (apalagi) mengenal standar penilaian berdasar seni, dan kreatifitas anak.
Okelah,,,mereka adalah pendidik yg memprioritaskan pendidikan agama,,,,tp dimanakah mereka menempatkan kreatifitas sebagai elemen dari pendidikan itu sendiri? Ataukah tidak ada nilainya sama sekali? Jika mereka tak menyukai seni, mengapa menjadi juri seni?
Dalam dunia kreatifitas anak... tidak mengenal keharusan bahwa langit itu harus biru, bahwa daun itu harus hijau dan tanah harus coklat atau hitam!!!
Keberanian anak ber-eksplorasi dan menghadirkan imajinasi nya dalam menggambar atau mewarnai sebuah obyek, dengan warna2 yg tak lazim, goresan2 yg ceria namun orisinil,,,justru menunjukkan kecerdasan dan bakat anak tsb. Betapa anehnya ketika anak2 yg gemilang (termasuk anak sy,, kelihatan bgt sy optimis dgn bakat yg dimiliki anak sy ya? mohon dimaklumi, perasaan sy sbg ibu sama spt embok2 yg lain, hehehe ) ,,,, justru sama sekali tak mendapat 'wadah', alih-alih diperhatikan, dlm kompetisi kecil dimana merupakan kesempatan menemukan bakat anak, yg kreatif justru dianggap 'tak layak'!!!
Di dunia, dimana kreatifitas dan sebuah ide yg orisinil bisa menjadi asset dan sangat dihargai....disini, (bukan tidak mungkin kreatifitas mereka suatu saat nanti memberi sumbangsih karya yg berarti kan?), ada pendidik yg meng-eliminir karya bocah2 cerdas lantaran mrk mewarnai langit tidak dgn warna biru,,,mewarnai tanah tidak dgn warna hitam, atau melukis pohon dgn garis-garis pelangi (yg dianggap tidak sesuai standar).
Hadiah dlm sebuah perlombaan bukan hal yg teramat penting, dan Alhamdulillah anak sy santai saja dan sama sekali tidak menaruh iri atas ' keberuntungan' teman2 nya...namun pikiran idealis sy sebagai orang tua dan sbg orang yg peduli pd kreatifitas anak merasa janggal dgn apa yg sy temui di yayasan sekolah ini.
Saya (sekali lagi) sadar, bahwa prioritas yayasan ini adalah pendidikan agama,,, namun tidak ada salahnya juga jika menaruh keseriusan dlm berkesenian.
Dan satu hal lagi yg merisaukan sy,,, pihak yayasan bersikap tidak konsisten dengan memunculkan pemenang yg tidak bekerja secara independen (dibantu ibunda nya).
Sy memaklumi bahwa sang ibu adalah salah satu dr keluarga besar pemilik yayasan, bahwa (sekali lagi) ikatan kekeluargaan tidak bisa diremehkan (skeptis banget sih?),,,namun bukankah dari awal, sekolah selalu menggaris bawahi bahwa kemandirian seorang anak sangat diutamakan? bahwa setiap langkah kecil dalam kegiatan belajar dan mengajar implementasi nya adalah membuat anak semakin mandiri dan berprestasi?
Sy ingat betul tahun lalu ketika mengikuti lomba yg sama,,, ibu wali kelas anak sy (sy bangga dgn ibu yg satu ini, setidaknya beliau sy lihat yg paling obyektif dan lugas), memberi sedikit bocoran, bahwa sebetulnya karya anak sy hendak muncul sbg pemenang, tp dianulir krn si kecil memang belum mandiri,, dan sy sangat menghargai dan memaklumi. Bukti bahwa kemandirian adalah sebuah tuntutan yg mendasari obyektifitas penilaian terhadap siswa, TAPI ....dgn munculnya kejadian yg terakhir, slogan kemandirian dan obyektifitas yg sy percaya sbg hal yg melekat pd sekolah dan yayasan ini, perlahan terdengar di telinga sy seperti sesuatu yg kosong.
Kebijaksanaan ditentukan oleh pimpinan yayasan, sepenuhnya dan tak terbantahkan. Meskipun itu mengabaikan logika dan (sedikit) melanggar prinsip.
Reaksi sy atas kejadian kecil di sekolah ini sepertinya terlalu lebay ya? Hehehe :D Mohon ma'af jika ada yg tidak berkenan.
Apapun, dibalik keluh kesah sy,,,sebagai ibu yg teramat sayang dan berharap yg terbaik untuk anak,sekolah tempat anak menimba ilmu ini tetap memberi kontribusi yg positif thd perkembangan kemampuan anak sy khususnya, dan anak yg lain umumnya. Dan sy sangat berterimakasih.keep writing, and always care ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar